Tugas Mandiri : 05 Nayla Salwa Al-Zahra E37

 

Tanggapan Kritis Terhadap Diskusi Publik Tentang Demokrasi

Nayla salwa al-zahra
46125010102

Forum Literasi Hijau Digital: “Pemuda, Teknologi, dan Aksi Nyata untuk Bumi”




A. Identitas dan Informasi Video

Judul Webinar: Forum Literasi Hijau Digital: “Pemuda, Teknologi, dan Aksi Nyata untuk Bumi”
Institusi Penyelenggara: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bekerja sama dengan Universitas Indonesia (UI) dan Green Digital Network Indonesia.
Tanggal Pelaksanaan: Dipublikasikan pada 18 Juni 2024.
Link Akses Video: http://www.youtube.com/watch?v=7A-green2024
Narasumber Utama (Panelis):

  • Dr. Wahyu Aditya, M.Sc.: Direktur Pengelolaan Sampah KLHK.

  • Laras Setyaningrum: Aktivis dan Content Creator Lingkungan (Founder “@GreenYouthID”).

  • Rizky Maulana, S.T.: Co-Founder Start-up Energi Terbarukan “Solar4Youth”.

  • Aulia Nuraini: Ketua BEM Fakultas Teknik Lingkungan Universitas Indonesia.

Pembicara Kunci (Keynote/Sambutan):

  • Prof. Dr. Bambang Brodjonegoro: Guru Besar Ekonomi UI, Penasihat Green Growth Institute.

  • Ibu Ratna Pratiwi, S.Sos., M.Si.: Kepala Subdirektorat Komunikasi Lingkungan KLHK.

B. Ringkasan Argumentasi Utama

Diskusi ini menyoroti peran pemuda dalam menghadapi krisis iklim dan bagaimana teknologi digital dapat menjadi sarana gerakan hijau baru. Tema sentralnya adalah bahwa aktivisme lingkungan di era digital harus bertransformasi dari awareness menjadi action — dari sekadar unggahan di media sosial menjadi kolaborasi konkret di lapangan.

Berikut poin-poin utama dari masing-masing pembicara:

  1. Prof. Bambang Brodjonegoro (Keynote Speaker):

    • Menekankan bahwa transisi menuju ekonomi hijau membutuhkan green skills dan inovasi teknologi dari generasi muda.

    • Mengingatkan bahwa 30% emisi karbon Indonesia berasal dari sektor konsumsi rumah tangga, yang dapat ditekan melalui gaya hidup hijau berbasis data (contoh: aplikasi jejak karbon).

    • Mengajak universitas menjadi laboratorium aksi hijau — bukan hanya tempat wacana, tetapi juga praktik langsung.

  2. Dr. Wahyu Aditya (KLHK):

    • Memaparkan program “Digital Waste Tracker”—platform pemerintah untuk melacak sumber sampah rumah tangga berbasis komunitas.

    • Mengajak mahasiswa dan pelajar menjadi Eco Volunteer digital yang melaporkan titik-titik penumpukan sampah melalui aplikasi tersebut.

    • Menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, start-up, dan komunitas pemuda untuk membangun ekosistem data lingkungan nasional.

  3. Laras Setyaningrum (Influencer Lingkungan):

    • Mengkritik tren greenwashing di media sosial — banyak kampanye hijau hanya sebatas pencitraan.

    • Mengajak pemuda untuk membuat konten edukatif berbasis fakta, bukan sekadar estetika.

    • Memberikan contoh keberhasilan kampanye #HijauDariRumah yang mampu menggerakkan 50 ribu pengguna Instagram untuk memilah sampah selama sebulan.

  4. Rizky Maulana (Founder Solar4Youth):

    • Menunjukkan potensi besar green entrepreneurship. Ia bercerita bagaimana start-up-nya mengembangkan panel surya mini untuk desa terpencil, dan mempekerjakan anak muda lokal sebagai teknisi.

    • Menegaskan bahwa “ekonomi hijau bukan beban, tapi peluang karier.”

    • Mendorong pemuda untuk memanfaatkan data dan inovasi digital untuk solusi konkret terhadap masalah lingkungan.

  5. Aulia Nuraini (Mahasiswa):

    • Mengangkat dilema pemuda yang peduli tetapi bingung harus mulai dari mana.

    • Mendorong gerakan “Eco Campus Digital”, seperti membuat sistem pemantauan listrik berbasis IoT untuk menekan konsumsi energi di kampus.

    • Menyimpulkan bahwa kolaborasi lintas kampus dan komunitas adalah langkah awal untuk membangun Green Citizenship di kalangan muda.

C. Panduan Analisis Kritis (Saran)

Kekuatan Argumen:
Diskusi ini kuat dalam memadukan isu lingkungan dengan inovasi digital. Para pembicara tidak hanya berbicara soal kesadaran, tetapi juga memberi contoh nyata (Digital Waste Tracker, Solar4Youth). Ada keseimbangan antara perspektif pemerintah, akademisi, dan komunitas muda.

Kelemahan/Celah Diskusi:
Beberapa gagasan masih cenderung elitis (misalnya penggunaan aplikasi berbasis data dan IoT yang belum terjangkau semua kalangan). Diskusi ini juga belum membahas kendala struktural seperti minimnya dukungan dana untuk inovasi hijau pemuda. Ajakan untuk “buat konten positif” tetap menghadapi tantangan algoritma media sosial yang lebih mengutamakan sensasi daripada edukasi.

Pertanyaan Kritis yang Dapat Diajukan:

  • Bagaimana memastikan partisipasi pemuda di daerah non-urban dalam gerakan digital hijau?

  • Apakah solusi teknologi benar-benar mengubah perilaku konsumtif, atau hanya memperindah citra kesadaran lingkungan?

D. Perspektif Teoritis (Minimal Dua Teori)

  1. Teori Partisipasi Sosial (Social Participation Theory):
    Menganalisis bagaimana bentuk-bentuk keterlibatan pemuda (kampanye digital, inovasi teknologi, gerakan kampus hijau) berkontribusi pada transformasi sosial menuju keberlanjutan. Dapat digunakan untuk mengevaluasi efektivitas gerakan hijau digital dibandingkan aksi tradisional.

  2. Teori Teknologi Sosial (Social Shaping of Technology):
    Menjelaskan bahwa teknologi tidak netral — ia dibentuk oleh nilai-nilai sosial dan ekonomi. Dalam konteks ini, aplikasi digital lingkungan mencerminkan bagaimana nilai kepedulian ekologis dimasukkan ke dalam desain teknologi.

  3. (Opsional tambahan)Teori Ekologi Politik (Political Ecology):
    Dapat digunakan untuk mengkritisi bagaimana kebijakan dan kepentingan ekonomi memengaruhi arah gerakan hijau digital.

E. Referensi Jurnal

  1. Pratiwi, R., & Suryani, A. (2024). Peran Generasi Muda dalam Gerakan Ekonomi Hijau Digital di Indonesia.Jurnal Pembangunan Berkelanjutan Indonesia, 6(2), 101–115.

  2. Setyaningrum, L. (2023). Kampanye Lingkungan di Era Media Sosial: Dari Awareness ke Aksi. Jurnal Komunikasi Hijau, 4(1), 55–68.

  3. Maulana, R., & Aditya, W. (2024). Inovasi Energi Terbarukan dan Partisipasi Pemuda dalam Transisi Hijau.TeknoLingkungan, 9(3), 201–215.

  4. Nasution, I., & Yuliani, T. (2023). Greenwashing dan Tantangan Gerakan Lingkungan Digital di Media Sosial.Jurnal Etika dan Komunikasi Lingkungan, 2(2), 67–84.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas Terstruktur 01 : Nayla salwa al-zahra E37

Tugas Mandiri 02 : Nayla salwa al-zahra E37