Tugas Mandiri : 04 Nayla Salwa Al-Zahra E37

 

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

Mozaik Petukangan: Harmoni Tradisi dan Modernitas di Tengah Dinamika Kota

Lokasi Observasi: Kelurahan Petukangan Utara, Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan
Periode Observasi: 5 – 15 Oktober 2025


A. PENDAHULUAN

Saya memilih daerah Petukangan Utara, Jakarta Selatan sebagai lokasi observasi karena kawasan ini menarik sebagai contoh wilayah transisi antara budaya lokal Betawi yang kuat dan gaya hidup urban modern. Di satu sisi, Petukangan masih mempertahankan nilai-nilai kekeluargaan dan gotong royong khas kampung Betawi; di sisi lain, modernisasi dan masuknya pendatang baru membawa perubahan pola interaksi sosial, gaya hidup, bahkan nilai-nilai bersama.

Saya tertarik untuk mengamati bagaimana masyarakat Petukangan menjaga keseimbangan antara mempertahankan identitas lokal dan beradaptasi dengan perubahan sosial ekonomi kota. Fokus observasi ini adalah pada praktik gotong royong lingkungan — sebuah tradisi yang telah lama menjadi simbol solidaritas sosial di Indonesia — serta bagaimana maknanya bergeser atau bertahan di tengah urbanisasi.

B. TEMUAN OBSERVASI

Selama 10 hari pengamatan, saya menemukan bahwa gotong royong di Petukangan masih menjadi salah satu pilar utama kehidupan sosial warga, meskipun bentuk dan motivasinya mulai berubah.

Setiap hari Minggu pagi, warga di RT 06/RW 02 rutin melakukan kerja bakti membersihkan selokan dan taman kecil di pinggir jalan. Kegiatan ini dipimpin oleh Pak Daman, tokoh lokal berusia 60-an yang dikenal sebagai “penjaga tradisi Betawi”. Ia berkeliling membangunkan warga dengan pengeras suara, sambil berkata dengan logat khas: “Ayo warga, kerja bareng biar kampung kite bersih, jangan nunggu pemerintah bae!”

Yang menarik, partisipasi warga berbeda-beda. Warga lama (mayoritas Betawi) hadir hampir setiap minggu, membawa peralatan sendiri dan saling bercanda hangat. Namun, warga baru—yang sebagian besar pasangan muda profesional yang baru membeli rumah di perumahan kecil di belakang gang—cenderung pasif. Beberapa hanya keluar sebentar untuk menyapu halaman sendiri, lalu kembali ke rumah.

Di sisi lain, saya juga mengamati bentuk gotong royong baru yang muncul dari inisiatif digital. Misalnya, grup WhatsApp warga “Petukangan Sehat” digunakan untuk menggalang dana cepat ketika salah satu tetangga sakit atau membutuhkan bantuan. Dalam satu kasus, hanya dalam sehari, terkumpul hampir satu juta rupiah untuk membantu warga yang kecelakaan. Jadi, solidaritas tetap hidup — hanya medianya yang bergeser.

Namun, muncul juga gesekan kecil. Warga lama terkadang merasa “kurang dihargai” karena generasi muda dianggap tidak mau ikut kerja bakti. Sebaliknya, warga baru merasa kegiatan tersebut kurang efisien dan tidak terorganisir dengan baik. Perbedaan persepsi ini menunjukkan perbedaan cara pandang antara nilai komunal tradisional dan nilai praktis modern.

C. ANALISIS

Fenomena di Petukangan dapat dianalisis melalui konsep integrasi sosial kultural, yaitu proses penyesuaian nilai dan norma antara kelompok lama dan baru dalam satu komunitas.

Gotong royong tradisional yang dilakukan warga lama mencerminkan integrasi normatif, di mana kebersamaan dibangun atas dasar nilai-nilai lokal dan rasa kewajiban moral. Sementara, bentuk solidaritas digital melalui WAG “Petukangan Sehat” mencerminkan integrasi fungsional, di mana warga berpartisipasi karena adanya kebutuhan praktis dan manfaat langsung.

Keduanya menunjukkan dua wajah integrasi sosial di wilayah urban-transisional: yang satu berbasis tradisi, yang lain berbasis efisiensi dan teknologi. Tantangannya terletak pada bagaimana kedua bentuk solidaritas ini bisa saling menguatkan, bukan saling menggantikan.

Perbedaan gaya hidup dan tingkat ekonomi antara warga lama dan baru dapat menjadi sumber potensial konflik laten. Namun, keberadaan tokoh masyarakat seperti Pak Daman dan inisiatif digital warga muda juga menjadi modal sosial yang penting untuk menjembatani kesenjangan itu.

D. REFLEKSI DIRI & PEMBELAJARAN

Selama observasi, saya menyadari bahwa saya sendiri sering merasa lebih nyaman berinteraksi secara digital daripada turun langsung dalam kegiatan sosial. Melihat semangat warga Petukangan yang masih mau berkotor-kotor demi lingkungan bersama membuat saya berpikir ulang tentang makna partisipasi.

Saya belajar bahwa gotong royong tidak hanya soal turun ke lapangan, tetapi juga soal rasa memiliki terhadap lingkungan. Ketika warga baru dan lama saling memahami konteks masing-masing, kolaborasi yang lebih inklusif bisa terwujud. Saya juga belajar pentingnya komunikasi lintas generasi dan pemanfaatan teknologi untuk memperkuat, bukan menggantikan, interaksi sosial yang nyata.

E. KESIMPULAN & REKOMENDASI

Kesimpulan:
Petukangan Utara menunjukkan wajah khas masyarakat urban Indonesia yang sedang bertransformasi. Tradisi gotong royong masih hidup, tetapi mengalami adaptasi bentuk dan makna. Di tengah derasnya arus modernisasi, semangat kolektivitas tetap bertahan, meski membutuhkan jembatan baru berupa komunikasi lintas generasi dan pemanfaatan media digital.

Rekomendasi Aksi Nyata:

  1. Program “Gotong Royong Digital”: Mengintegrasikan warga lama dan baru melalui sistem jadwal kerja bakti berbasis grup WhatsApp atau aplikasi RT online. Warga yang tidak bisa hadir bisa berkontribusi dengan bahan, alat, atau dana.

  2. Festival Petukangan Bersih & Budaya: Mengadakan kegiatan tahunan yang memadukan kerja bakti massal dengan bazar kuliner Betawi dan lomba antarwarga. Tujuannya agar partisipasi warga menjadi lebih inklusif dan menarik bagi generasi muda.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas Terstruktur 01 : Nayla salwa al-zahra E37

Tugas Mandiri : 05 Nayla Salwa Al-Zahra E37

Tugas Mandiri 02 : Nayla salwa al-zahra E37