Tugas Terstruktur 12: Nayla Salwa Al-Zahra E37
Artikel Reflektif
Disusun Oleh:
Nayla Salwa Al-Zahra
(46125010102)
LINK PDF: Artikel Reflektif
Potret Toleransi di Ruang Urban: Sebuah Refleksi Kritis
(Pengamatan di DKI Jakarta)
I. Pendahuluan
Saya berdomisili di salah satu kawasan permukiman di DKI Jakarta yang dihuni oleh masyarakat dengan latar belakang agama, suku, dan budaya yang sangat beragam. Jakarta sebagai ibu kota negara merupakan ruang urban yang mempertemukan berbagai identitas sosial dalam satu wilayah yang sama. Interaksi antarwarga terjadi secara intens, baik di lingkungan tempat tinggal, ruang publik, maupun dalam aktivitas sehari-hari.
Dalam konteks kehidupan perkotaan yang dinamis dan heterogen, toleransi menjadi sikap yang sangat penting untuk menjaga keharmonisan sosial. Bagi saya, toleransi tidak hanya berarti membiarkan perbedaan ada, tetapi juga melibatkan sikap saling menghormati dan kesediaan untuk hidup berdampingan secara damai. Melalui pengamatan langsung di lingkungan sekitar tempat tinggal saya, tulisan ini berupaya merefleksikan bagaimana toleransi diwujudkan dalam kehidupan masyarakat Jakarta serta tantangan yang menyertainya.
II. Deskripsi Realita
Berdasarkan pengamatan saya, kehidupan sosial di lingkungan tempat tinggal saya di Jakarta menunjukkan adanya praktik toleransi yang cukup nyata, meskipun berlangsung dalam suasana masyarakat yang cenderung individualistis. Warga berasal dari latar belakang agama yang berbeda, seperti Islam, Kristen, Katolik, dan agama lainnya, namun tetap berbagi ruang hidup yang sama.
Salah satu bentuk toleransi yang terlihat jelas adalah pada saat pelaksanaan kegiatan keagamaan. Pada bulan Ramadan, misalnya, warga non-Muslim umumnya menunjukkan sikap menghormati dengan menjaga ketertiban di lingkungan sekitar. Penggunaan pengeras suara untuk kegiatan keagamaan juga diatur agar tidak mengganggu warga lain, mencerminkan adanya kesadaran bersama akan pentingnya saling menghargai.
Saat perayaan hari besar keagamaan, seperti Idulfitri dan Natal, interaksi sosial antarwarga tetap terjalin. Warga saling menyapa dan menjaga hubungan baik meskipun tidak selalu terlibat secara langsung dalam perayaan tersebut. Dalam beberapa kesempatan, pengurus lingkungan turut mengoordinasikan pengamanan dan pengaturan lalu lintas lokal untuk memastikan kegiatan berjalan dengan lancar.
Di luar kegiatan keagamaan, toleransi juga tercermin dalam aktivitas sosial seperti kerja bakti, rapat warga, dan kegiatan kebersihan lingkungan. Meskipun tingkat partisipasi warga tidak selalu merata—mengingat kesibukan khas kehidupan
kota—kegiatan tersebut tetap menjadi ruang pertemuan sosial yang memperkuat rasa kebersamaan. Namun demikian, saya mengamati bahwa interaksi antarwarga cenderung bersifat fungsional dan belum sepenuhnya membentuk kedekatan emosional yang kuat.
III. Refleksi dan Analisis
Berdasarkan refleksi saya, praktik toleransi di lingkungan perkotaan seperti Jakarta lebih banyak dipengaruhi oleh kesadaran pragmatis akan pentingnya hidup berdampingan secara damai. Warga memahami bahwa konflik akibat perbedaan hanya akan memperumit kehidupan sosial di tengah kepadatan dan kompleksitas kota. Oleh karena itu, sikap saling menghormati menjadi pilihan rasional dalam menjaga stabilitas lingkungan.
Nilai kemanusiaan tetap menjadi fondasi utama toleransi. Hal ini terlihat ketika ada warga yang mengalami musibah atau kesulitan; bantuan dan empati tetap diberikan tanpa memandang latar belakang agama atau suku. Meskipun hubungan sosial tidak selalu dekat, rasa kepedulian dasar masih terjaga.
Selain itu, nilai kebangsaan turut memengaruhi sikap warga dalam menyikapi perbedaan. Prinsip persatuan dalam keberagaman tercermin dari upaya menjaga ketertiban dan kenyamanan bersama. Peran pengurus lingkungan, seperti ketua RT dan RW, cukup signifikan dalam menciptakan suasana inklusif melalui komunikasi yang terbuka dan kebijakan yang adil bagi seluruh warga.
Jika dikaitkan dengan konsep toleransi sosial, kondisi yang saya amati menunjukkan bahwa toleransi di Jakarta cenderung bersifat aktif namun minimalis—cukup untuk menjaga keharmonisan, tetapi masih memiliki ruang untuk dikembangkan menjadi hubungan sosial yang lebih erat dan bermakna.
IV. Kesimpulan
Berdasarkan pengamatan dan refleksi pribadi, saya menyimpulkan bahwa toleransi di lingkungan tempat tinggal saya di DKI Jakarta telah terwujud dalam bentuk sikap saling menghormati dan menjaga ketertiban sosial di tengah keberagaman. Meskipun interaksi sosial warga cenderung terbatas oleh kesibukan dan gaya hidup perkotaan, nilai toleransi tetap menjadi landasan penting dalam kehidupan bermasyarakat.
Pelajaran yang saya peroleh adalah bahwa toleransi di lingkungan urban memerlukan kesadaran yang terus-menerus serta ruang interaksi yang lebih terbuka. Toleransi tidak cukup hanya diwujudkan dalam bentuk sikap pasif, tetapi perlu diperkuat melalui dialog dan kegiatan sosial yang mendorong kedekatan antarwarga. Dengan demikian, toleransi tidak hanya menjaga kedamaian, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial di tengah keberagaman kota Jakarta.
Komentar
Posting Komentar